
Namanya Eko Yulianto. Berperawakan sedang, berkulit cokat, serta berambut ikal. Wajahnya pun tak tampan, khas seperti wajah kebanyakan suku jawa. Biasa saja.
Dan dia adalah laki-laki yang pernah menghabiskan waktu dengan saya saat kami masih berseragam putih abu-abu, beberapa puluh tahun yang lalu.
Saya pun tidak juga tampan. Maka pada saat itu, kami tak punya nyali untuk mengejar-kejar wanita sebagaimana yang dilakukan sebagian besar kaum adam di sekolah kami.
Dan sebagian kecil lainnya, termasuk saya dan dia? membiarkan para wanita yang bernyali, mengejar-kejar kami
.
Selama berpuluh-puluh hari, kami setia. Berpuluh-puluh hari kami tetap pada posisi yang sama, di tengah-tengah ruangan, di ujung belakang kelas berbatasan langsung dengan dinding, saya di kanan dan ia di sebelah kiri. Selama berpuluh-puluh hari, kami mengikatkan diri pada sebuah kursi, di belakang sebuah meja kayu coklat dengan ruang kecil panjang di bawahnya, membentuk sebuah laci tanpa tutup yang berisi berbagai macam buku diktat.
…
Sejak awal sekolah saya menyukai pengembaraan. Tergabung dalam sebuah komunitas, saya melintas hutan, membelah sungai. Menyasar jalan setapak, mencoba menggapai sebuah puncak. Rasanya tak ada yang lebih nikmat dari bercerita hingga tertawa lepas, duduk melingkari perapian dengan secangkir kopi atau coklat hangat yang diramu dengan persaudaraan dan kesederhanaan. Mungkin jika cuaca bersahabat, kami akan bertemu bintang yang berkerlip lebih terang sambil bermandikan cahaya bulan. Namun, sering kali kami berselimut hujan, terbungkus kabut dan gerutuan soal betapa enaknya tidur dalam kamar yang kering dan hangat.
Hanya meringkuk dalam sleeping bag, ditemani derap suara air hujan yang menyentuh atap tenda, serta serentetan gerutuan yang tak kunjung reda.
Kemudian saya mengenalkan pengembaraan itu padanya. Merbabu, merapi, lawu, sumbing, sindoro, ungaran. Entah berapa puluh langkah yang sudah kami habiskan bersama, hingga tiba pada suatu masa. Masa dimana kami menamatkan bangku sekolah. Dan kami pun berpisah. Jalan yang terhampar, kami pun berpisah tanpa banyak bertanya.
Ia ke barat dan saya menuju timur.
Seperti matahari dan bulan yang tak pernah bersama dalam melangkah, matahari memandang siang sedang bulan mengitari malam.
…
Detik terus berdenyut, tahun pun terhanyut, dan petualangan saya pun terhenti. Pekerjaan, istri, anak, rumah, menamatkan sebuah episode tentang perjalanan. Rumah meniadakan keinginan yang dulu selalu membuncah. Rumah memalingkan saya untuk tidak berlama-lama di luar sana.
Dan tiba-tiba ia muncul di depan pintu rumah. Masih dengan wajah yang saya kenal, masih dengan senyum yang khas. Ya, ia, si peintas batas
Bercerita ia tentang jakarta, bandung, pekan baru, riau, lahat, banjarmasin, balikapapan, palembang, samarinda, jogja, solo, semarang, makasar… menyisir pedalaman kalimantan, sumatera, sulawesi..
Kini perjalanannya karena pekerjaan. Dari satu kota ke kota lain, dari satu pulau ke pulau lain. Rasanya, serasa tak ada waktu untuk beristirahat barang sejenak. Entah berapa puluh kota lagi yang yang akan ia ceritakan, dan entah berapa puluh pulau yang akan ia muntahkan..
Pelintas Batas.. Tersirat gurat kelelahan di sana.. Kenikmatan sebuah perjalanan, atau terpaksa menikmati demi sebuah pengharapan?
“Happy B’day, Om.. sori kalo terlambat.. Satu kata penyejuk jiwa. “Pulang”.. “
1 Comment
3 August, 2009 at 11:49 pm
wahhhhh kgn juga ma tulisan tulisa sampean mas, heheheheh ^^ kayanya dah banyak yg mau di ungkapin nih heheheh ^^
monggo di lanjut co cengengesan wae xixixix ^^