27 December, 2008...10:07 pm

muara

Jump to Comments

capturingPerjalanan waktu ini akan bermuara pada sebuah senja. Kemudian ia membeku bersama keriputnya kulit, tanggalnya beberapa gigi, atau mungkin saja ia akan berakhir pada sebuah taburan bunga, gundukan tanah basah, dengan sepasang patok kayu kecil yang menancap berhadap-hadapan.

Taburan bunga, patok kecil yang menancap berhadap-hadapan, dengan sekerumunan orang. Tetapi itu tak lama. Hanya beberapa saat. Dan kemudian, tinggal lah desir daun yang mencoba menjamah angin, dan angin yang meniup debu-debu.

Dan mestinya perjalanan waktu ini akan bermuara pada sebuah senja, ketika angin semilir sudah dingin, ketika gurat-gurat emas berserabut di kaki langit. Tapi, bisa saja perjalanan waktu ini berhenti disini, sekarang, tepat saat ini. Saat ini, ketika awan belum ada, ketika langit masih biru, dan sinar emasnya belum tampak. Atau bisa jadi ia berhenti pagi-pagi benar, ketika angin masih memanjakan embun, sedang putik bunga masih terlelap. Atau bisa saja, ia terhenti dalam kegaduhan di ujung jalan, saat matahari memberangus aspal, saat peluh berlari-lari di sekujur tubuh.

Bisa saja..
Bahkan ia  bisa berhenti ketika kalimat-kalimat ini belum terselesaikan..

Karena ia adalah perjalanan waktu? Perjalanan waktu?? Benarkah ia berjalan? Benarkah ia tak pernah berhenti? Benarkah ia tak bisa dihentikan?

Entah..

Lalu, bagaimana dengan keriput? Bagaimana rasanya menjadi keriput? Bagaimana rasanya ketika genggaman tak lagi kesat?  Bagaiamana rasanya ketika gigi-gigi mulai tanggal, hingga mulut tak lagi mampu melumat? Bagaiamana rasanya ketika harus terbungkuk-bungkuk, berjalan, tertatih-tatih, disertai lengkingan pendek-pendek peluit suara nafas? Bagaimana rasanya ketika ingatan sudah mulai memudar, hingga harus memejamkan kan mata pada waktu yang lama, hanya untuk mengingat sebuah nama?

Entahlah..

Beberapa dari kita bersamanya mendatangi muara dengan sangat lambat. Sangat lambat. Setapak demi setapak, meluruskan satu tapak di depan tapak yang lain, satu demi satu, hinga ia seperti garis putih putus-putus yang didekatkan satu dengan yang lain, hingga senja memeluk dengan erat.

Dan banyak dari kita mendatangi dengan cepat.  Secepat kilat. Hingga seakan ia diam tak bergerak, seakan tak beranjak, di saat fajarpun belum terlihat.

Dan perjalanan waktu kan melabuhkannya  pada sebuah muara. Sebuah muara tak mesti senja. Muara tak mesti ketika langit perlahan menjadi gelap. Tak mesti ketika langit menggenggam sinar keemesaan. Tak mesti ketika ia  terang benderang, ketika panas menancap. Tak mesti ketika warna belum terlihat, ketika sinar hangat bercampur udara dingin. Dan sepasang patok kayu kecil yang menancap berhadap-hadapan tak mesti ada.

Dan muara lah akan mengantar kita kepada keabadian.
Setiap detik, setiap waktu yang berlalu,
sesungguhnya, kitalah yang mendatangi muara..

27 Comments


Leave a Reply