Perjalanan waktu ini akan bermuara pada sebuah senja. Kemudian ia membeku bersama keriputnya kulit, tanggalnya beberapa gigi, atau mungkin saja ia akan berakhir pada sebuah taburan bunga, gundukan tanah basah, dengan sepasang patok kayu kecil yang menancap berhadap-hadapan.
Taburan bunga, patok kecil yang menancap berhadap-hadapan, dengan sekerumunan orang. Tetapi itu tak lama. Hanya beberapa saat. Dan kemudian, tinggal lah desir daun yang mencoba menjamah angin, dan angin yang meniup debu-debu.
Dan mestinya perjalanan waktu ini akan bermuara pada sebuah senja, ketika angin semilir sudah dingin, ketika gurat-gurat emas berserabut di kaki langit. Tapi, bisa saja perjalanan waktu ini berhenti disini, sekarang, tepat saat ini. Saat ini, ketika awan belum ada, ketika langit masih biru, dan sinar emasnya belum tampak. Atau bisa jadi ia berhenti pagi-pagi benar, ketika angin masih memanjakan embun, sedang putik bunga masih terlelap. Atau bisa saja, ia terhenti dalam kegaduhan di ujung jalan, saat matahari memberangus aspal, saat peluh berlari-lari di sekujur tubuh.
Bisa saja..
Bahkan ia bisa berhenti ketika kalimat-kalimat ini belum terselesaikan..
Karena ia adalah perjalanan waktu? Perjalanan waktu?? Benarkah ia berjalan? Benarkah ia tak pernah berhenti? Benarkah ia tak bisa dihentikan?
Entah..
Lalu, bagaimana dengan keriput? Bagaimana rasanya menjadi keriput? Bagaimana rasanya ketika genggaman tak lagi kesat? Bagaiamana rasanya ketika gigi-gigi mulai tanggal, hingga mulut tak lagi mampu melumat? Bagaiamana rasanya ketika harus terbungkuk-bungkuk, berjalan, tertatih-tatih, disertai lengkingan pendek-pendek peluit suara nafas? Bagaimana rasanya ketika ingatan sudah mulai memudar, hingga harus memejamkan kan mata pada waktu yang lama, hanya untuk mengingat sebuah nama?
Entahlah..
Beberapa dari kita bersamanya mendatangi muara dengan sangat lambat. Sangat lambat. Setapak demi setapak, meluruskan satu tapak di depan tapak yang lain, satu demi satu, hinga ia seperti garis putih putus-putus yang didekatkan satu dengan yang lain, hingga senja memeluk dengan erat.
Dan banyak dari kita mendatangi dengan cepat. Secepat kilat. Hingga seakan ia diam tak bergerak, seakan tak beranjak, di saat fajarpun belum terlihat.
Dan perjalanan waktu kan melabuhkannya pada sebuah muara. Sebuah muara tak mesti senja. Muara tak mesti ketika langit perlahan menjadi gelap. Tak mesti ketika langit menggenggam sinar keemesaan. Tak mesti ketika ia terang benderang, ketika panas menancap. Tak mesti ketika warna belum terlihat, ketika sinar hangat bercampur udara dingin. Dan sepasang patok kayu kecil yang menancap berhadap-hadapan tak mesti ada.
Dan muara lah akan mengantar kita kepada keabadian.
Setiap detik, setiap waktu yang berlalu,
sesungguhnya, kitalah yang mendatangi muara..
27 Comments
28 December, 2008 at 7:33 am
Ga peduli muara atau hulu…
Aku selalu suka akan senja…
Senja, pantai dan…GANJA!!!
oopss..itu masa lalu
28 December, 2008 at 10:00 pm
@brandal surga: Masih setia dengan daun berjari lima don? Coba deh daun singkong, kalau kurang lebar, daun pepaya, bolehlah..
@langitjiwa: selamat tahun baru juga mas
@manggIs: amin pak, semoga semakin baik di 1429 H ini
28 December, 2008 at 12:56 pm
Pada muara aku membaui usia
Yang mengantar aku pada keabadian.
**
Selamat Tahun Baru,sobat.
salam hangat selalu.
28 December, 2008 at 8:32 pm
Ku ingin melihat muara-ku bersama bidadari…
diantara desir…lenguh…nyanyian merdu-Nya…
Muara….
aku tengah duduk di kursi goyang…
menikmati titipan kado dari sang srengenge yang melantunkan ayat-ayat-Nya di awal pagi….
****************
SELAMAT TAHUN BARU HIJRIAH 1429 h….
Semoga semakin berjaya di tahun yang baru ini….
Pun SELAMAT TAHUN BARU 2009…!!!!
Have nice work all long next year, friend!!!
29 December, 2008 at 10:17 am
serem banget mas,
semoga sebelum sampe ke muara, kita sudah melakukan sesuatu untuk sesama sehingga menjadi bekal ketika kita sampe ke muara dan menghadapNya… >,<
29 December, 2008 at 3:03 pm
muara keabadian ya?
muara keabadian adalah akhir dari yang fana
tapi awal dari yang abadi
29 December, 2008 at 8:14 pm
somber and gloomy…
saya ingin berenang menuju muara dg pelampung senyum, tawa riang, dan optimisme
happy new year, teman
29 December, 2008 at 8:29 pm
Kemarin ada suami adik temanku yang meninggal. Malah, gak sampai keriput, ompong, peot, usianya hanya 26 tahun. Mengagetkan orang-orang di sekitarnya. Mati mendadak karena serangan jantung. Duh, if life is so short…..
30 December, 2008 at 6:49 am
@KruciaL: amin teman..
@fata: akan hidup setelah mati
@nita: met tahun baru juga nit
@suhadinet: memang ya pak, kita nggak bisa memprediksi, kapan sesuatu yang pasti terjadi itu akan terjadi..
dan muara tak mesti senja..
30 December, 2008 at 10:42 am
kadang aku tak ingin berjalan
diam saja, berhenti di suatu waktu
tapi waktu juga yang membawaku hanyut….
met tahun baru…
30 December, 2008 at 3:04 pm
hidup kan memang sebuah perjalanan waktu..
dan semua akan bermuara pada keabadiaan di alam lain..
30 December, 2008 at 4:04 pm
Lambat Laun akan menuju kesana juga walau jalannya lambat, kita tinggal menunggu waktu yang tepat untuk dijemput malaikat…
Met Tahun Baru ya…
30 December, 2008 at 4:33 pm
dalam ya..
bagaimana rasanya menjadi keriput? pada saatnya kita akan tau juga..
30 December, 2008 at 6:27 pm
themenya sama….
keriput? pake anti adging… hehehe yang penting tetap semnagt pakk
30 December, 2008 at 9:13 pm
muara tak mesti senja, karena kita tak pernah tahu apakah kita bakal pernah berhak akan sebuah senja.
oleh karena itu tujuan hidup mesti terus dijenguk agar tak sesat di jalan, direvisi bila perlu, dibelokkan bila memang harus.
selamat tahun baru, sobat!
30 December, 2008 at 11:56 pm
akan menuju ke sana juga akhirnya
31 December, 2008 at 8:27 pm
udah brenti nge-gele sejak 5th yang lalu.
Fantastis yaa…;p
Met taon baro bro…
jangan lupa ugal-ugalan…
hyahahaha….
lol
4 January, 2009 at 6:32 pm
Hidup ini dengan warna warninya akan berpulang pada keabadian…milik Allah semata
5 January, 2009 at 1:02 am
tulisan yang bagus!!Hepi Nu Year!!
15 January, 2009 at 10:29 pm
cie2……………
insyaf ya maz!!!
yang penting tetep rajin solat ja ya
15 January, 2009 at 10:31 pm
ih iso ik…………
padahal mung njajal lho………
ayo ke semarang lagi
tapi bareng2 ma mbak ecik,zakiyul, en yang kakung lan yang utinya ya!!!!!!!!!!!!
15 January, 2009 at 10:38 pm
asik2………….
oya boz, baru tau lho ternyata bisa puitis juga…………
bakat terpendam ya!
doain ya boz, tahun ni bisa lulus!!!!
amien………….
kok blog e mbak cik ga da perubahan to?…
salam buat smuanya… >,<
15 January, 2009 at 10:48 pm
Semua adalah milikNya
Yang sempurna hanyalah Dia
Hidup hanyalah sesaat
Manis,
Pahit,
Lahir kita sendiri
Pulangpun kita juga sendiri
Sendiri
13 February, 2009 at 1:55 pm
Bicara soal muara…..
dari mana ia berasal maka ia akan kembali ke sana…..
21 February, 2009 at 2:38 pm
Mudahan sungai yang kita lalui masih panjang..masih jauh untuk mencapai muara. Perlu bekal yang banyak untuk ke laut bebas………
Koq lama gak nulis lagi ???
lagi semesteran kah..?
27 February, 2009 at 3:07 pm
kemana aja menghilang bos?
4 March, 2009 at 2:58 pm
muara……….ke sana lah air laut mula menjadi..