31 August, 2008...7:40 pm

i quit..

Jump to Comments

Sebulan ini, bahkan dalam waktu tiga minggu ini, saya harus mengunjungi dokter di rumah sakit dua kali. Minggu pertama ketika infeksi saluran pencernaan, dan minggu ini infeksi saluran pernafasaan. Satu mungkin belum cukup , hingga, hingga harus dua kali, bersentuhan dengan infeksi-infeksian, beberapa obat yang ditebus di apotek, dan tentu saja beristirahat.

Hingga minggu ini, lima-enam hari kemarin, mual-mual, nyeri, ngilu-ngilu di tulang-tulang, hingga menggigil kedinginan padahal suhu tubuh hampir tiga puluh sembilan derajat celsius.

Tak ada sesuatu yang disalahkan. Namun ada yang yang dipaksakan. Yup. Saya memaksa untuk tidak merokok. Sakit berturut-turut memaksa kesadaran saya untuk segera menghentikan kebiasaan yang sudah lama saya tekuni. Sudah berkali-kali terbersit keinginan untuk berhenti. Wacana, ide untuk berhenti, tak pernah padam, namun tidak bisa membuat saya menghentikan kebiasaan saya itu. Saya perlu momentum, penggerak, aktivator, katalisator, atau apapun namanya, dan rasanya inilah dia.

Biasanya terselip di tangan sebatang putih, berfilter, dengan strip merah. Terselip di antara bibir, di sela aktifitas, jeda, atau istirahat, di segala ruang dan waktu. Menemani sepanjang hari, menemani berpuluh-puluh waktu. Namun sudah hampir lima atau enam hari saya tak menyentuhnya.

Setelah berpuluh-tahun, saya mencabut budaya, mencabut kebiasaan yang selama ini menemani saya. Saya tidak tahu apapun yang akan terjadi.

Sejak enam hari yang lalu, saya tantang diri saya untuk menghabiskan sisa waktu yang Allah masih berikan kepada saya dengan tidak merokok.

28 Comments


Leave a Reply