Belum tujuh hari bendera berwarna putih terpasang di ujung jalan. Bendera putih kecil, diikat pada sebatang kayu kering, sebuah ranting pohon mangga, kemudian dilekatkan pada sebuah tiang nama jalan. Bendera putih, bendera kematian, berkibar, melambai-lambaikan duka dan kesedihan.
Belum tujuh hari seorang teman, yang juga tetangga, seorang teman kerja, sekaligus kawan kehilangan anak pertamanya, anak perempuan berumur empat tahun. Ia meninggal dalam dekapan sang ayah ketika fajar baru saja datang. Meninggalkan keriangan, meninggal sejumlah kenangan ketika angin dingin pagi masih berhembus. Meninggalkan jejak, meninggalkan bayang-bayang dan kehangatan ketika embun pagi belum menghilang.
Saya tidak mampu berkata-berkata ketika saya menemuinya hari itu. Hari itu menjelang sore. Suara adzan ashar pun belum terdengar. Lidah saya terlalu kelu untuk bertanya apa yang terjadi dini hari tadi. Bertatapan, berjabat tangan.Dan saya hanya mampu menyebutkan penggalan namanya, lalu diam. Matanya masih merah dan sisa-sisa tangis belum habis benar. Diam. Saya diam, ia diam. Diam, karena saya tak mampu berkata-kata, dan ia tak mampu berbicara. Diam, karena saya tak bisa mengentikan sesak dadanya, mengurai kesedihanya, atau menahan jatuhnya airmata. Lidah saya terasa berat, hingga kemudian membiarkan para tetangga meneruskan pembicaraan yang terpotong saat ia keluar dari dalam rumah.
Kabar yang terdengar memang benar adanya. Dalam dekapan, di sebuah subuh, di rumah seorang ustad, herbalis, dan di ujung pagi, sang ayah mengantarkan anak perempuannya kembali pada sang Penguasa. Bisik-bisikpun beterbangan disepanjang jalan, di pabrik, di mana-mana. Ketika biaya medis tak jadi masalah, ketika rumah sakit adalah gratis. Mengapa ia mengantar pertemuan anak perempuan dengan sang Pencipta di rumah ustad yang seorang herbalis?
Bisik-bisik yang bertaburan pada sepanjang jalan adalah mengerikan, terhunus seperti pisau yang bisa saja menyayat, atau langsung terhujam, menembus tepat pada hati. Bisik-bisik hanyalah mata sesaat, yang tidak tau apa yang sebelumnya terjadi, yang tidak mengerti apa yang telah terjadi.
Saya tidak mampu berkata apa-apa..
Saya hanya diam..
16 Comments
24 August, 2008 at 2:13 pm
pasti berat harus berpisah dengan seseorang yang dicintai,
betapa pun pada tiap pertemuan, perpisahan adalah mutlak.
aku tidak berani berkomentar untuk paragraf #4.
ajal sudah ada ketetapannya.
kita jangan dilalaikan oleh skenarionya.
24 August, 2008 at 2:14 pm
diam..itu suatu yang misterius kah!
wekekek!
24 August, 2008 at 9:02 pm
kepadanya semua kita khan kembali..
24 August, 2008 at 11:20 pm
saya pun turut diam…bertanya2 seandainya si anak dibawa ke dokter medis apakah jiwanya bisa tertolong
24 August, 2008 at 11:23 pm
Innalillahi, semua kembali kepadaNya. Anak tanpa dosa adalah penghuni sorga. Entah kenapa, saya percaya pada ayah itu, percaya kalau dia sungguh mencintai anak itu. Soal bisik-bisik itu, saya juga tak berani komentar. Ustadz yang herbalist? Saya suka curiga sama model beginian.
25 August, 2008 at 12:37 am
duh, sedih banget bacanya. semoga orang tua si anak diberi kekuatan untuk melanjutkan hidup tanpa anak tercinta disisinya. amin!
25 August, 2008 at 1:57 am
aku turut berduka cita,mas
25 August, 2008 at 6:38 am
Saya turut berduka cita mas…soal kenapa dibawa ke ustad herbalis tidak usahlah dibahas, takut menjadikan fitnah
25 August, 2008 at 12:10 pm
@ALL:
Betul, takdir telah tercatat di Lauh Mahfudz dan semua telah digariskan. Semoga ini bisa jadi nasehat untuk saya soal kehilangan, soal kematian.. Dan tentang bisik-bisik, saya kurang sreg. Kenapa dalam situasi seperti itu, banyak orang (pembisik) yang terkesan menyalahkan. Penilaian sesaat. Saya rasa para pembisik nggak tau apa yang sebenarnya terjadi. Hanya menilai ketika saat itu, kemudian menyimpulkan tanpa tau sebelumnya, hari, bulan bahkan tahun-tahun sebelumnya. Mereka tidak tau apa yang ‘benar-benar terjadi’. Mungkin sebelumnya telah menjalani perawatan, terapi, pengobatan secara medis, dan lain-lain, siapa yang tau? Berburuk sangka kemudian menyalahkan rasanya bukan sesuatu yang bijaksana
Dan saya nggak punya keberanian juga nggak punya niat untuk menanyakannya secara detail.. Kehilangan, rasanya berat, mungkin sangat-berat-sekali.. apalagi kehilangan sesuatu yang dicintai..
Semoga teman, sahabat, tetangga, teman kerja saya, tidak lama larut dalam kesedihan..
25 August, 2008 at 4:32 pm
Pasti berat sekali rasanya berpisah dengan buah hati, but life’s go on!!!…..sayang juga di saat pengobatan medis sudah tersedia dan, gratis pula, msh saja mencari alternatif…Seharusnya alternatif khan pilihan yg ke sekian kali bukan yg utama….
25 August, 2008 at 5:57 pm
semua org pasti memiliki umur yg berbeda-beda…..
27 August, 2008 at 1:58 am
kasian banget yah tu bapak…
semoga bapaknya diberikan ketabahan…
postingnya menyentuh,bro…
27 August, 2008 at 7:10 pm
salam buat yang ditinggalkan, semoga tabah…
27 August, 2008 at 8:22 pm
Jadi ada apakah dibalik ke-diam-an itu? Tapi bukankah manusia tak bisa berbuat apapun melawan kehendakNya. Dan diam-pun kadang tak membantu menata hati. Aku turut sedih
28 August, 2008 at 12:31 pm
diam itu terkadang lebih keras terdengar daripada kata-kata…
30 August, 2008 at 11:40 pm
… just believe that she’s going to have a peaceful long rest on God’s side..