28 July, 2008...2:40 am

keberuntungan

Jump to Comments

Bergerak-gerak kapal kami di tengah lautan.  Jangkar sudah dilempar, penyeimbang sudah diturunkan, namun kapal masih saja tak bisa diam. Bergerak naik turun, bergoyang ke kiri dan kanan, terombang-ambing mengikuti irama ombak. Satu per satu teman-teman mulai mengambil posisi, empat di depan, dan empat di belakang, dengan berbagi berat di kedua sisi, kiri dan kanan. Dan ritual pun dimulai. Menancapkan ikan tembang pada mata kail, membuang ke laut, mengikuti ayunan kapal dan menunggu umpan disambar ikan. Berkali-kali senar diangkat. Berkali-kali pula ikan tembang masih menancap pada mata kail. Dan berkali-kali pula senar dilemparkan lagi ke laut.
Empat puluh lima menit berlalu, tapi belum ada tanda-tanda dari penghuni dasar laut. Belum ada ikan yang mau memakan umpan-umpan kami.

Kapal bergerak lambat-lambat meninggalkan spot pertama. Kami berpindah tempat. Banyak mata terus menatap pada sekotak kecil alat berwarna hitam di sebelah kemudi nahkoda. Kotak hitam yang diyakini mampu mendeteksi apa yang ada di bawah kami. Sebuah fishfinder keluaran Garmin. Walaupun tampilannya masih hitam-putih, fishfinder inilah yang menyebabkan kami rela merogoh kocek lebih dalam untuk menyewa sebuah kapal.

Di spot kedua, ritual pun dimulai lagi. Memasang umpan pada mata kail, melemparnya jauh-jauh dari kapal, kemudian menunggu sambaran penghuni dasar laut. Mendiamkan untuk beberapa saat, lalu menarik senar hingga ke geladak untuk sekedar memeriksa umpan. Memasang lagi jika umpan sudah hilang, atau menggantikan dengan yang baru, dengan harapan baru. Harapan baru agar ikan mau memangsa umpan yang dipasang, kemudian membuangnya jauh-jauh ke laut, dan menunggu. Menunggu dan menunggu. Berulang-ulang dan berulang-ulang.

Ombak semakin besar, kapal pun semakin sering lagi bergoyang-goyang. Dengan bersandar di tepi kapal, menghadapkan kepala ke laut, beberapa dari kami dengan ikhlas mengeluarkan sarapan paginya ke laut, memberi makan plankton-plankton ataupun ikan-ikan teri yang mungkin saja lewat. Semakin ke tengah, meninggalkan rig pengeboran minyak lepas pantai yang berdiri kokoh, kapal kami menggelepar-gelepar berpindah-pindah tempat, mengikuti isyarat yang dilepaskan fishfinder. Sang penjejak ikan. Ikan tembang segar , cumi, sayatan tongkol sudah kami coba berganti-ganti. Segala macam teknik sudah dikeluarkan.   Teknik Jigging dan popping juga ikut ambil bagian.  Entah mengapa hasilnya tetap sama. Tak ada tanda-tanda penghuni dasar laut yang menyambar umpan-umpan kami.

Sudah seharian kami bermandikan matahari. Sudah berjam-jam kami ditemani gelombang. Dan sudah bermil-mil kami mengikuti isyarat fishfinder. Hanya tiga ekor ikan merah seukuran jari yang singgah di geladak, dan itupun kami lepaskan lagi agar ia menjadi besar.

Senja sudah hampir datang. Kami pun memutuskan untuk pulang. Sehebat apapun alat, teknik, dan umpan, memancing tetap saja membutuhkan keberuntungan.

26 Comments

  • wah, lagi gak beruntung banget ya. padahal segala jurus udah dikeluarkan. berapa jam tuh di atas kapal…gak mabok laut?

    btw utk menangkap ikan spt itu butuh semacam license (ijin) gak. belon pernah mancing soalnya:)

  • tulisannya gaya features nih, bagus…
    lanjuuuu…tt

  • Mungkin karena produk
    Fishfinder 160 – nya sudah ‘discontinued product’ ? hihi

  • He.he..fishingmania juga ternyata.

  • Wahh.. dulu saya mancing cuma di pinggir panta… nggak tahan digoyang ombak..

  • hueheuehu… penulisannya lucu yah ^^
    mancing emang susah ya? ( ga pernah mancing ). Nggak mancing aj, semuanya juga butuh keberuntungan….

    Meth KnaL…. ^^

  • @nita: betul nit, semua jurus sudah dikerahkan, hehehe.. mancingnya berangkat dari pagi, start jam 8, pulang jam 5 sore. Mabok? Iya, beberapa temen mabok. Sukses kasih makan ikan teri. Moga-moga aja mereka nggak kapok, hehe..
    Mmm,..di sini nggak butuh license. Mungkin kalo mancingnya keluar batas negara, baru butuh ijin :)

    @antown: jadi tulisan seperti ini gaya feature ya? jujur, saya nulisnya ya asal nulis, nggak tau gaya / teknik apa.. lah wong nggak punya ilmu tulis-menulis.. terimakasih atas informasinya loh kang..

    @supermance: apa gara-gara itu kali ya? hehe..

    @suhadinet: iya pak, sekarang lagi memperdalam ‘jigging’.. walaupun belum pernah strike dengan teknik ini :)

    @qizinklaziva: kan ada antimo pak atau kimite yang dari korea pak.. :)

    @krucial: mancing jadi mudah, kalau ikannya banyak, terus mau nyambar umpan. susah, kalo di bawah nggak ada ikan. lebih sedih lagi, kalau ikannya banyak, tapi sama sekali nggak mau makan, ikannya kekenyangan, atau ikannya lagi puasa, hihihi..
    salam kenal juga

  • suka mancing yah pak??

  • .. dan butuh kesabaran lebih,, that’s why saya paling ndak suka mancing,,hehe

  • mudah-mudahan, next time bisa lebih beruntung,hehehe

  • lain kali mending ikutan nelayan aja deh mancingnya.
    insyaAllah mereka gak pernah pulang tangan kosong.
    eh, nelayan menjaring ikan, bukan mancing yak?
    kalau gitu lain kali taliguci pake jaring aja, jangan pancing.
    modal seiprit dapatnya segajaaahh…
    *iklan mode: on*

  • wah udah lulus tuh jadi pelaut!
    hihihhihi

  • Kayaknya satu ritual yg blon ada tuh… berdo’a….tul nggak?

    Memancing perlu kesabaran yaa…but, biasanya banyak aja tongkol2 yg nyangkut…koq waktu itu sial banget yaa…????!

  • @fanz: betul sekali mas..

    @ika: sebagian orang ndak suka yang sabar-sabar, sebagian lagi justru cinta kesabaran

    @ivana: amin..

    @marshmallow: gimana kalo ikut nelayan negara sebelah, pake kapal besar, trus pake troll, pake juga pukat harimau.. malah mereka dapetnya dua gajah loh :) mancingnya? ya diperairan kita :(

    @trendy: pelaut? belum… kalo pemancing yang sering nggak dapet ikan, iya :mrgreen:

  • memancing tapi diungkapkan dengan narasi yang bagus, cukup terjaga jalinan harmoni irama dan rimanya, tanpa terjebak pada kecengengan. sungguh, bukan hal yang mudah utk merangkai diksi yang tepat dalam mendeskripsikan suasana yang tengah terjadi. ada pesan moralnya yang membuat saya tertarik, mas taliguci:

    Hanya tiga ekor ikan merah seukuran jari yang singgah di geladak, dan itupun kami lepaskan lagi agar ia menjadi besar.

    wah, kayaknya langka banget tuh, mas, pemancing yang melepaskan tangkapannya kembali, haks …

  • wah mungkin ikan tidak suka dengan umpannya, coba umpannya pake cacing tanah he 3x

  • wah keberuntungan
    aau lebih tepatnya ketepatan
    pas waktunya :D

  • @sawali tuhusetya: lagi belajar cnr pak, catch and release :) belakangan ini jadi satu alternatif di kalangan pemancing-pemancing profesional, karena banyak spot / terumbu karang yang rusak gara-gara bom, sehingga ikan semakin langka. harapan cnr adalah kita atau yang lain bisa memancing kembali ikan yang telah kita lepas. pemakaian single hook (satu mata kail) lebih diutamakan daipada pemakaian treble (kail seperti jangkar) karena treble memperkecil kemungkinan hidup ikan yang tertangkap. tetap ada yang diambil untuk dikonsumsi, tetapi biasanya cuma beberapa saja.

    @herlan: bisa jadi loh mas :)

    @achoey sang khilaf: betul ketepatan.. pas umpan diturunkan, pas ada ikan, dan pas ikannya makan :)

  • rasanya saya tak cukup sabar untuk ikut dalam ekspedisi memancing :D

  • Seru mancingnya pake naik kapal segala, saya sich beraninya dipinggir laut ajah :-)

  • pernah dapat ikan segede orang ga om? hahaha

  • Daripada uangnya buat nyewa kapal mending dibeliin ikan aja di pasar pasti udah dapet banyak.
    he..he..!

  • @hanny: kalau expedisinya nulis-nulis gimana han, pasti semangat empat lima :)

    @1nd1r4: di pinggir, pantainya bagus, banyak terumbu karangnya, bawa snorkle, google ma fin, malah bisa bikin lupa mancing

    @Catra: belum pernah.. kalo segede tangan orang sering :mrgreen:

    @zakaria zaki: betul, jangan lupa judulnya harus diubah, belanja..

  • aku salut sama mas, loh. ga punya ilmu tulis menulis tapi hasil tulisannya oke banget!! TOP MARKOTOP. hehehe…

    keep up the good work!

  • @caroline: makasih mbak :)

  • mancing bareng saya sering tertunda, mungkin perlu di pikirkan mas heheheh ^^


Leave a Reply