30 June, 2008...9:47 pm

Beras Basah

Jump to Comments

Tanjung LautSudah lama saya tidak melakukan hal-hal seperti ini: membuat daftar, menyiapkan perlengkapan dan mengepaknya ke dalam backpack. Berhitung jumlah logistik dengan jumlah hari, mendata kekurangan perbekalan, kemudian melengkapi di sebuah supermarket. Rasanya kali terakhir hal itu saya kerjakan, mungkin di tahun 1997 atau 1998, sesaat sebelum saya hijrah ke Bontang. Waktu itu saya dan dua orang teman mencoba menyusuri sabana Sembalun, sebuah desa terakhir menuju puncak Gunung Rinjani. Mencoba mengais sensasi puncak tertinggi ketiga di Indonesia sambil mereguk dingin nya segara anak, kemudian berjalan menuruni punggungan gunung dengan mengambil jalur lain, jalur hutan hujan tropis, dimana jalur ini akan berakhir pada sisi lain Gunung Rinjani, desa Senaru.

Minggu ini saya seperti merasakan deja vu, ketika harus melakukan ritual-ritual kecil itu: membuat daftar, menyiapkan perlengkapan, kemudian mengepak ke dalam backpack. “Mengepak adalah seni”. Dulu saat saya gencar-gencarnya melakukan pendakian, jargon ini amat terkenal diantara saya dan teman-teman dan mungkin ini juga di kalangan para pendaki. Saya tidak tahu pasti, kapan istilah ini pertama kali muncul. Rasanya Norman Edwin-lah yang mencetuskannya pertama kalinya, dalam bukunya “Mendaki Gunung, sebuah tantangan petualangan” di tahun 1990-an. Mengepak penuh sekali keindahan dan sentuhan. Memilih, memprioritaskan barang-barang dan perlengkapan lain, memasukkan kemudian menyusun ke dalam backpack, sehingga menjadikan backpack kita laksana wanita, berisi penuh, padat, rapi, serta indah dipandang. Bagi saya, mengepak adalah ritual terfavorit saya. Ritual-ritual ini menghalusinasi jiwa petualang saya. Membuka tenda di Beras basah, pulau kecil yang akan saya tuju, serasa tidak berbeda dengan berpetualang di gunung-gunung tinggi yang menyebar dari ujung barat jawa hingga sebelah timur pulau Lombok.

Perjalanan kami berdelapan (Mahendra, Triyono, saya, Jum, Wai, Agung, Jaka, dan Hendra Surajab) dimulai dari pelabuhan Tanjung laut, Sabtu sore. Sesuai kesepakatan, harusnya kami berangkat jam setengah empat sore. Namun apa daya, kami terpaksa harus mencari kapal carteran lagi, karena kapal carter yang sudah disepakati kandas. Kandas alias tidak bisa digunakan, karena tempat parkir kapal, kering, airnya surut hingga jauh. Akhirnya perjanjian batal dan kami mencoba mencari kapal carter yang lain.

Setelah berputar-putar mencari kapal yang bisa dicarter, akhirnya kami mendapatkan kapal pengganti, dengan bumbu negosiasi yang alot soal harga dan beberapa kesepakatan. Biarpun harga sedikit lebih mahal, hasilnya tidak terlalu mengecewakan. Setidaknya kami bisa tetap berangkat dan kapal ini lebih besar. Kapal ini beratap, bercat putih, dengan lis biru muda di bagian atas dan biru tua di bawah, ditambah dengan kesepakatan-kesepakatan: mengantar kami ke pulau Beras basah, mengantar kami memancing hingga jam sebelas malam, kemudian mengantar kami ke kembali pulau Beras basah. Baru besok paginya, menjemput kami jam sembilan untuk mengantarkan kami kembali pulang. Walau kami tidak bisa mencarter selama dua puluh empat jam seperti kapal yang batal, tapi itu tidak jadi masalah. Tidak terlalu buruk bagi kami.

Barang-barang sudah diturunkan ke dalam kapal. Backpack bawaan teman-teman, jerigen-jerigen besar berwarna biru berisi air tawar, kardus-kardus berisi air mineral dalam botol, tenda, stick-stick pancing, beberapa kardus berisi logistik, kompor gas kecil, berlembar terpal plastik oranye, termos nasi berisi ikan tembang untuk umpan memancing, dan beberapa perlengkapan lainnya sudah tersusun rapi ketika kapal mulai meninggalkan pelabuhan Tanjung laut. Langit tampak bersahabat, walau siang tadi sempat turun hujan. Sudah tidak ada lagi sisa mendung yang menggantung. Tinggal matahari yang semakin condong ke barat. Di rumah-rumah mereka, rumah panggung yang terbuat dari kayu, masyarakat Tanjung laut, terlihat bersantai menghabiskan sore ini. Rumah panggung, dengan ketinting berbaris di depan rumah sementara di bawahnya, riak-riak gelombang memantulkan kedamaian. Kapal kami berjalan pelan, karena di sekitar pelabuhan memang tampak ramai. Orang memancing dengan membenamkan diri hingga sebatas dada, pekerja-pekerja konstruksi mereklamasi sebagian pantai yang rencananya akan dibangun hotel, perahu kayu besar, speed boat, dan lebih banyak ketinting hilir mudik beradu cepat dengan matahari yang mulai meredup.

Kami melewati marina PTB yang kini sudah ditutup. Keadaannya masih seperti dulu, mengundang setiap orang untuk mendatanginya, mengundang orang untuk berlama-lama bercengkerama bersamanya. Saya tidak mengetahui secara pasti mengapa marina ditutup. Banyak rumor dan isu yang beredar terkait soal mengapa marina ditutup. Tetapi rumor tetap saja rumor, sesuatu yang tidak jelas kebenarannya. Dulu, saat marina dibuka untuk umum, banyak warga Bontang yang memanfaatkan marina itu sebagai tempat rekreasi. Hampir setiap akhir pekan dan hari libur, marina tidak pernah sepi. Kini, ikan-ikan ketambak atau ikan biji nangka atau mungkin ikan kerapu telah beranak pinak, karena tidak ada lagi orang yang mengusik.

Keluar dari Tanjung laut, kapal yang kami tumpangi mengangguk-angguk bersama gelombang. Sementara di depan, horison membelah bumi menjadi dua, memisahkan laut dan langit. Kapal kami terus melaju. Dengan suara mesin memekakkan telinga, melewati buoy-buoy, kapal layar bercadik, menara-menara pemberi tanda bercat putih yang tinggi menjulang, melewati juga tumbuhan laut yang mirip sekali dengan serutan kayu yang tersebar di mana-mana. Dari kejauhan, pulau-pulau kecil dengan hutan bakau mengapung, mengawasi kapal-kapal tanker raksasa yang bersiap untuk bersandar.
Anggukan kapal semakin tinggi manakala ombak besar datang membelai. Kapal oleng ke kanan dan kiri, ketika ombak dari samping, membenturkan diri ke badan kapal. Air laut memercik. Dan tak jarang kami harus berpegangan erat pada apa saja.

beras_basah

Empat puluh lima menit berlalu, dan kapal kami merapat. Laut begitu tenang seolah mengucapkan selamat datang. Barang-barang mulai dimuntahkan dari perut kapal. Perlengkapan yang membuat kami bergidik, seakan kami akan tinggal di sini selama dua minggu.

Mendirikan tenda, membuat perapian, menyiapkan makan malam, dan memancing. Baru keesokan paginya: snorkeling, melihat keindahan terumbu karang sekaligus mandi pagi.

tent_on_the_beachsunsetsnorkling sekalian mandi pagipantaipantai2triyono,hendra temennya agung,jaka,jum,agung

Damai sekali rasanya…

19 Comments

  • nomer siji, sregep, koyo sing nulis blog sregep nulis…..

  • pendaki gunung ya mas? wekekekeke…

    sori ki…lg mumet… akhire blog-mu dadi korban spam… ehehehehehe….

    sregep posting…ngejar setoran po?

    lebaran mulih yo…ditunggu cah akeh…rembug tuwo….

    ;)

  • wahaha,….
    menulis yang mengasikkan..
    sayang kemaren gak bawa kamera..
    padahal mau nulis juga.. dan narsiz tentunya..
    hihi…
    smoga planning ke derawan jadi ya bro..

  • @kriting: rajin pangkal pandai ting.. eling wejangan ne bu guru pas SD ora? hehehe….

    @tambenk: asem ik.. bali semarang ra ajak-ajak.. :)
    *ngiri..*
    rembug tuwo?? insyaallah mbenk.. tak usaha’ke
    *banca-an..!!*

    @varzyeta: katanya mo jadi reporter, tapi handycam-nya malah disimpen di dalam backpack, paling bawah lagi, hihihi..
    *lah terus kapan nge-shot nya.. :) *
    ke derawannya harus jadi dong gung.. moga-moga aja modalnya cukup..
    *ngelus-elus celengan ayam*

  • selalu menikmati kunjungan ke taman bacaan taliguci, apa pun yang disuguhkan.
    ceritanya bagus, mengalir mulus, deskriptif, dilengkapi dengan gambar-gambar yang okeh pula.
    two thumbs up buat taliguci!
    tapi beberapa ejaan mohon dikoreksi dong, biar lebih sempurna. :oops:
    *pake kacamata minus tebal, bolak-balik buku EYD*

  • wah, saya jealous dg petualangan kamu. soal packing saya juga punya ritual yg sama, apalagi kalau jalan jauh.

    btw thanks udah mampir di blogku ya. salam kenal:)

  • @marshmallow: terima kasih koreksi mbak, jangan kapok untuk kasih kritik yaa..
    *bongkar-bongkar lemari, cari buku EYD..*

    @nita: packing, bagian terfavorit saya :)
    salam kenal juga :)

  • saya juga paling suka membuat daftar untuk dimasukkan ke backpack. btw, makasih dah mampir ke blog saya.

  • @candle: a-ha.. ternyata banyak orang yang mempunyai kesamaan pada sesuatu yang sama..

  • Wow, menarik! I like your chosen words describing your journey. Daku jadi iri, pengen backpacking lagi. Tapi bener deh, packing ke dalam backpack itu ada seninya, cuma aku selalu gagal membuat baju-bajuku tak berantakan di dalam tas.

  • Wah mantap.. saya juga suka sekali backpacking. Masalahnya sekarang sedang menata kehidupan dan keuangan jadi impian tersebut sementara digantung di awang awang dulu.

  • @red antares: jadi, jangan ragu-ragu, ayo..segera tentukan tujuan.. :)

    @p3durungan: setidak-tidaknya masih punya impian kan?

  • wolooowwww…mbaca postingan sampeyan jadi merinding nich…….

    Jadi inget jaman dulu….sama2 backpacker….nggelandang dengan ransel…..

    tapi sekarang dah ada yang musti ditanggung kehidupannya…musti mikir2 lagi…mending jadi INTERNET TRAVELLER sekarang….

  • Byeh, jiwa petualangnya masih ada to mas? kirain bertualang didunia maya tok…

  • weh…snorkleing?…blon pernah pake alat sih….maklum snorklingnya di Mahakam dulu waktu kecil sering nangkepi ikan-ikan di sela-sela bebatuannya (kami nyebutnya dgn : ‘ndanau’)…asyiiik….!tapi sayang skrinsyut nya gag ada di atas ntu…!

  • @windra: pengen juga jadi internet traveler backpacknya di ganti ma paypal :)

    @iis: halah, itupun diajakin kok mbak :)

    @manggis: iya pak, sayang, kameranya gak bisa dimasukin ke dalam air, hihihi..

  • Wah backpaker ya mas…asyik tuch, jadi pengen ikutan dech….
    Sayang…. terikat tanggung jawab kerjaan..ha..ha..ha

  • wah mas, kapan kapan anak pisnet di ajak dong hehehehe, sapatau pas ada nasib baik, jadikan nasib mancingnya bisa nular hahahahaha :) )

  • Asyik nih kayaknya…Derawan juga mau duonggggg!!!Ternyata ada juga yang bercita-cita kesana….Ajak-ajak mas kalo kesanah…


Leave a Reply