25 June, 2008...10:37 pm

in honor of

Jump to Comments

Leontopodium alpinum

Kawan,
pernah dulu kita menjelajahi waktu.
merentang detik dengan cerita,
memilin cerita itu dengan hati:-gurau-marah-gembira-sedih.
melubangi langit, kemudian mencoba untuk memenuhinya,
dengan sebuah masa.

Kawan,
pernah kita habiskan hari-hari dengan diam.
hari-hari tanpa senyum,
hari-hari tanpa tegur sapa.
jiwa-jiwa muda kita mudah bergesek, jiwa-jiwa muda kita mudah menyala.
dan jiwa-jiwa muda kita lah yang memilih:
ego lebih besar dari rasio,
otot mengalahkan otak.

Kawan,
pernah kau tumpahkan makian.
kau muntahkan kepada bumi,
kepada tanah yang kita pijak,
kepada awan yang berarak.
hahaha
hanya karena kau gagal dalam menebak angka.
angka-angka yang pernah membuatmu lupa.

Kawan,
ceritakanlah kepadaku tentang sebuah negeri barumu
sebuah negeri yang belum pernah aku lihat.
samakah seperti saat kita berada di tanah-tanah tinggi,
dimana air begitu jernih,
dimana awan begitu dekat,
dimana leontopodium alpinum mengangguk-angguk, tersenyum kepada kita?
apakah sedamai itukah kawan?

ceritakalah semua kawan,
ingin aku mendengarnya..

.

.

in honor of
R. Widyomiko

1974-2007
(hari ini, satu tahun, sejak tubuhmu menyatu dengan tanah)

foto diambil dari sini

10 Comments

  • pertamax
    selain karena komentar awal juga karena baru kenal. hihihi…

    all aout poem ya blognya?

  • negeriku,,oh kapan menjadi damai?

  • hmm…
    puisinya khas taliguci.
    sinis, sarat makna.
    tapi yang ini juga romantis.
    emang sedih kehilangan teman baik ya?

  • @antown: selamat deh, pertamax pasti mahal ya mas, hehe.. salam kenal balik, trims udah mampir..
    Blognya ngga semuanya puisi kok mas.. cuman nggak tau, beberapa posting terakhir kok ‘mengharu-biru’.. :)

    @ika: negerimu nggak damai ya ka? negeri ku adem ayem loh, hehehe..

    @marshmallow: trims mbak.. wah, mbak bisa aja, hehehe..

    miko ini salah seorang temen saya. temen sekolah, temen main, temen naik gunung, temen seneng, temen sedih, temen berantem, temen ngejar-ngejar cewek, pokoknya lengkap deh. kami ketemu ketika kami masih sma. dia itu kakak kelas saya. lepas sma dia tetep di nglanjutin kuliah di semarang, sedang saya ke malang, trus nyangkut di bontang. setiap ada kesempatan pulang ke semarang, kami pasti ngumpul-ngumpul. selalu ada yang baru yang keluar dari otaknya, selalu ada ide-ide segar yang muncul, tapi tidak jarang ide-ide konyol meluncur. dia kadang lucu, kadang seru, rame, meski kadang ngeselin, bahkan njuengkelin.. super njengkelin.. Tapi mungkin gara-gara ke-kompleks-an itu, yang membuat persahabatan kami semakin berwarna.. Satu-dua tahun terakhir sebelum ia meninggal, intensitas pertemuan kami menurun drastis. karena rutinas maupun kesibukan masing-masing yang kian meningkat. tahun lalu, dia meninggal gara-gara liver…

  • “Pernah kita sama sama rasakan
    Panasnya mentari hanguskan hati
    Sampai saat kita nyaris tak percaya
    Bahwa roda nasib memang berputar
    Sahabat masih ingatkah
    Kau…”

    Mungkin gak ada hubungannya, tapi jadi keingat lagu ini, “Belum ada Judul” – Iwan Fals

  • wew,, ending puisinya…
    teman itu memang susah buat dilupain…

  • Wew, memberi inspirasi..Kawan sejati selalu memberi arti…

  • susah cari teman sejati sekarang… :(

  • salam kenal,sobat.
    biarkan aku menari-nari pada bait syair-syair sajakmu.

    salamku.

  • @erly: keinget juga nggak, ama tarikan harmonikanya, menyatu banget..

    @wennyaulia: setuju wen

    @iis sugianti: betul mbak.. kawan sejati memberi arti, selalu membekas di hati

    @ai: yup..
    *berharap semua teman bisa jadi kawan sejati.. *

    @langitjiwa: salam kenal juga mas.. silahkan-silahkan.. dengan senang hati :)


Leave a Reply