Gelap.. Hanya pendaran sinar lampu dari kapal-kapal kayu yang sedang membuang jangkar. Atau hanya pancaran lampu dari kapal-kapal yang hendak melaut. Namun dermaga yang belum jadi ini tampak ramai. Beberapa anak muda lalu lalang dengan motor yang memekakkan telinga, menutup rapat ujung jalanan yang menjorok ke laut. Jalan ini, jalan yang nanti akan digunakan sebagai tempat sandar bagi kapal-kapal feri yang datang. Beberapa anak muda yang lain tampak berformasi membentuk kelompok-kelompok. Bersama pasangannya, melingkar di atas motor-motor bertenaga besar, motor-motor keluaran tahun terbaru. Motor-motor bertenaga besar yang bersilinder lebih dari seratus lima puluh cc itu berbaris di bahu jalan. Sementara dari dekapan jari-jari mereka, ponsel-ponsel bersuara nyaring saut-bersaut, menjajakan lagu-lagu cinta abad ini.Menderu-deru.. Ponsel-ponsel itu menderu melawan suara motor tempel ketinting yang melintas menuju laut lepas.
Sudah satu jam aku di sini. Sudah satu jam aku bersama empat temanku, di dermaga yang belum jadi ini. Dalam keremangan, kutelusuri bayangan teman-temanku. Mereka tak jemu menatap riak gelombang. Meremas lumpur di dasar laut, menyibukkan diri dengan udang, ikan tembang, senar, timah pemberat, maupun mata pancing. Rokok di tangan, dan asap tumpah ke angkasa.
Semakin lama, motor-motor keluaran terbaru itu terus berdatangan. Berjalan satu dua putaran, berhenti, berjalan lambat-lambat, menekuk mencari ruang, kemudian berputar menghampiri kelompoknya sendiri-sendiri.
Dermaga yang belum jadi ini gemerlap. Berkilat-kilat oleh halogen, laksana adu pedang cahaya luke skywalker dengan Darth Vader. Dan tampaknya harus kukubur bayanganku tadi sebelum berangkat. Sunyi, suara gelombang memecah bibir dermaga, lampu-lampu pabrik penghasil pupuk terbesar di dunia maupun nyanyian ikan di ujung pancing. Saat ini yang ada hanyalah riuh. Sementara jerit dan tawa manja dari pasangan-pasangan mereka tertebar ke langit.
Hilang sudah selera memancingku malam ini.
Tuntutan jaman ? Apakah ini tuntutan jaman??
Apakah ini gaya hidup? Apakah ini pilihan hidup?? Benarkah mereka memaksakan diri?
Memaksakan diri karena sebuah kebutuhan? atau ini sebuah bentuk keterpaksaan? Keterpaksaan demi memuaskan ego-demi komunitas-demi harga diri-atau demi sebuah gengsi??
Tawa dan jerit manja bersautan, semakin lama semakin kerap terdengar. Sementara, di sebelah utara , lampu-lampu pabrik penghasil pupuk terbesar di dunia berkelip-kelip, membawaku melintasi laut ke kota-kota kosmopolitan. Lampu-lampu itu menyamarkan aku.. bahwa sebenarnya aku masih di sini, di sebuah kota di timur kalimantan.
Menyamarkan aku..?
Apakah mereka bahagia? Apakah keluarga mereka bahagia?? Apakah mereka berasal dari keluarga yang cukup berada???
Atau mereka diperkosa oleh jaman, diperkosa oleh budaya, diperkosa oleh gaya hidup??
Gerimis mulai turun, ketika aku memutuskan untuk pulang. Diantara riuhnya dermaga, tersembul suara motor tempel ketinting bergerak menyusuri pantai. Ketinting-ketinting itu bergerak menuju laut, mencoba menjejak nyanyian ikan. Ah…
17 Comments
20 June, 2008 at 11:45 am
Peningkatan tingkat konsumsi, pergeseran tingkat kebutuhan. Kebutuhan sekunder digeser menjadi kebutuhan primer semu
21 June, 2008 at 5:47 am
sayangnya hedonisme memang tempat persembunyian terbaik… ;p
bahasanya ngeri euy….
21 June, 2008 at 10:07 am
hare gene hedonisme makin menggila
21 June, 2008 at 1:07 pm
hebat, hedonisme tu hebat yaa.. tanpa pandang bulu, tanpa kerumitan sedikitpun. datang kapan saja, di mana saja dia mau, kepada siapa aja, menghujam langsung tepat pada sasaran
21 June, 2008 at 6:37 pm
hello mas
tengkyu sudah main ke blognya jo yach *sambil bawa tissu, kemarin ketinggalan di blog ku :p*
hehehee….
hmm…terkadang, perilaku anak muda jaman sekarang emang suka ajaib yach *padahal saya kan juga masih muda yach* wakakakakkaa….
salam kenal
cheers
22 June, 2008 at 2:02 am
wah ada yang kurang, music background
22 June, 2008 at 2:15 am
@jojo: ngga papa,tissue-nya ditinggal aja. stok tissue masih banyak kok..
salam kenal balik
@supermance: nah itu.. kira-kira apa bagusnya apa ya?
22 June, 2008 at 11:46 pm
Ah … foto mempesona; hebat euy cara penagmbilannya. Salut.
23 June, 2008 at 10:34 am
wuihhh…pemandangannya bagus…pengen deh ada ditempat yg bagus itu… salam kenal ^^
23 June, 2008 at 10:57 am
potonya baguss….
maennya kok di dermaga? gak di mall aja? hehe
23 June, 2008 at 1:21 pm
yah….. sebagian tempat kecil itu mengingatkan ku atas kenakalan remaja ku di kala duduk di STM, tempat bolos dan berlibur yg paling indah. Tenang , sepi, damai, dan bebas. bebas mengekpresikan kehidupan yg enggan bersahabat. bukan hidup ini yang kejam, tp hidup ini adalah ujian, sukses selalau mas, moga kita adalah hambanya yg selalau mendapatan rohmatnya [-o<
23 June, 2008 at 4:50 pm
@Ersis: Masih belajar kok pak.. Itupun hasil berkali-kali trial and error
@ai: Lebih bagus aslinya deh, bener.. sayangnya, rasanya sekarang udah nggak nyaman lagi
Salam kenal juga
@wennyaulia : Iya, di sini mall nya cuman satu.. itu pun kecil, kaya’nya gak muat kalo kesana semua, hehehe…
@dedik: Wah yang ‘pegang’ dermaga dateng..
23 June, 2008 at 5:39 pm
Yah… kayak tempat favoritku, eh don…kapan tuku domain, mosok aku kudu rene sik nek meh ng nggonmu
24 June, 2008 at 12:15 am
Aaaaakh….
Seandainya keindahan itu adalah cinta
maka biarkan indahnya menyentuh jauh samapi ke dasar hati
biar kulumat sampai ke akar
agar tak kudapat keparat sang belukar yang selalu membakar dengki…mengekor mulut dengan bualan sangar…dengan…segalanya….
Bontang…tak pernah kudapat untuk beberapa kali…baru sekali aku hirup indahmu lalu pergi dan tak pernah kembali…untuk apa…? Cintaku tak ada disana…hanya indahnya saja yang kuinginkan…hilang bersama asap PKT dan LNG….
Aaaaakh….!
24 June, 2008 at 11:46 am
hmm…
tulisan taliguci bagus ya?
kupikir hedonisme itu sindrom bagi orang-orang yang gak tau sulitnya cari uang sendiri.
24 June, 2008 at 8:17 pm
wah… dermaga… aku belum pernah nongkrong2 di dermaga… *pingin*
26 June, 2008 at 8:40 pm
@kriting: favoritnya mana ting, tanjung mas? Ayo..!!
*nyiapin peralatan mancing..*
@manggis: wah paernah ke bontang ya pak? Sudah cobain ikan bakarnya cak ali? sambelnya ga ada duanya loh pak..
@marshmallow: hedonisme..
sindrome? mestinya ada obatnya
@hanny: jangan ragu-ragu ke dermaga deh, banyak sesuatu yang lain loh..
*pasang umpan, lempar joran, dapet sandal jepit..*