15 June, 2008...10:56 pm

Matahari di atas Gili

Jump to Comments

Biarlah aku menjadi api
pada damar yang menempel di dindingMu
Meski tak layak cahayaku menyamai matahariMu
Api yang tak benderang
Api yang selalu dipermainkan angin
Tetapi aku ialah api yang ingin menyala
selama-lamanya untukMu
Meski minyak telah kering pada sumbu

Ini adalah adalah puisi Lintang Sugianto di halaman depan “Matahari di atas Gili”. Sebuah buku yang banyak bercerita soal Gili, sebuah pulau kecil terpencil di utara Probolinggo, orang orang Gili yang kolot namun berjiwa besar, juga Suhada, wanita dari kaki Gunung Gede yang setelah menikah dengan Suamar, jatuh cinta dengan Gili, dengan anak-anak gili, maupun dengan kehidupan Gili.

Bercerita tentang Suamar, seorang laki-laki Gili, yang bekerja sebagai pembuat kapal, yang berpikiran maju. Namun setelah kematian Suhada. Suamar hidup dalam dunia semu yang ia ciptakan sendiri. Hingga akhirnya ia tewas dari kereta api.

Semua berubah setelah kematian Suhada. Semua berubah, Sabam, Buk No, Pak Lurah, Pak Haji, Umi dan terutama Suamar.

Buku yang bagus. Penuh metafora, penuh bahasa-bahasa puisi yang ditulis sambung-menyambungkan, mengalir tak terbendung. Walau akhir cerita bukan sebuah akhir yang menggembirakan.

14 Comments


Leave a Reply