
Biarlah aku menjadi api
pada damar yang menempel di dindingMu
Meski tak layak cahayaku menyamai matahariMu
Api yang tak benderang
Api yang selalu dipermainkan angin
Tetapi aku ialah api yang ingin menyala
selama-lamanya untukMu
Meski minyak telah kering pada sumbu
Ini adalah adalah puisi Lintang Sugianto di halaman depan “Matahari di atas Gili”. Sebuah buku yang banyak bercerita soal Gili, sebuah pulau kecil terpencil di utara Probolinggo, orang orang Gili yang kolot namun berjiwa besar, juga Suhada, wanita dari kaki Gunung Gede yang setelah menikah dengan Suamar, jatuh cinta dengan Gili, dengan anak-anak gili, maupun dengan kehidupan Gili.
Bercerita tentang Suamar, seorang laki-laki Gili, yang bekerja sebagai pembuat kapal, yang berpikiran maju. Namun setelah kematian Suhada. Suamar hidup dalam dunia semu yang ia ciptakan sendiri. Hingga akhirnya ia tewas dari kereta api.
Semua berubah setelah kematian Suhada. Semua berubah, Sabam, Buk No, Pak Lurah, Pak Haji, Umi dan terutama Suamar.
Buku yang bagus. Penuh metafora, penuh bahasa-bahasa puisi yang ditulis sambung-menyambungkan, mengalir tak terbendung. Walau akhir cerita bukan sebuah akhir yang menggembirakan.
15 Comments
16 June, 2008 at 4:08 pm
Yang bagus2 itu memang gak selalu harus happy ending
16 June, 2008 at 5:07 pm
setuju dgn komen diatas. kalo boleh memilih aku lbh suka sad ending daripada happy ending. ga tau knapa. maybe ‘coz life is chaos?
ganti template eh? keren! suka yg ini drpd yg dulu.
16 June, 2008 at 9:54 pm
@erly: i agree with you guys.. bagus bukan harus happy ending. bagus juga nggak mesti sad ending. Yup, terserah penulisnya. Ratih Sang komen di buku ini, “.. Ah! penulis memang seperti Tuhan..”
@tambenk: Still fight to get the freedom??
16 June, 2008 at 9:58 pm
@tambenk: Iyo Don, bosen template sing lawas.. Sekali-kali perlu nglungsungi, hehehe..
17 June, 2008 at 6:08 pm
he..eh aku juga setuju, akhir bukan segalanya…bisa jadi sebuah akhir adalah sebuah awal…bingung ya…..
18 June, 2008 at 2:43 am
Api yang menyala selama-lamanya dalam hati
18 June, 2008 at 12:10 pm
@kriting: Akhirnya.. Muncul juga ‘lelananging jagat’
*langsung ke tkp ting..*
@Ersis: terimakasih pak, sudah mampir
19 June, 2008 at 9:17 am
gak selamanya harus happy ending pak, kadang2 diperlukan ending yang sedih juga untuk membangun kisah…
19 June, 2008 at 9:36 am
btw,sampeyan orang ungaran kah? kok tau alun2 juga? hehe masih ada nasi goreng babat yang enak di situ,pak pasih namanya..
19 June, 2008 at 12:07 pm
@ika: dulu kecil sampe sma, sering ngublek-ublek ungaran. favorit ya nasi goreng babat alun2 sama model2 tahu gimbal, tempatnya di pasar, buka’nya abis magrib, lupa namanya.. pake bumbu kacang, diulek langsung di piring..
*wah, ternyata makanan yo ngangeni juga ya..*
19 June, 2008 at 8:48 pm
covernya bagus.. yang ada di pikiran vi3 kirain settingnya di Gili yang ada di lombok.. ga taunya di tetangga kota vi3 ajah…
21 June, 2008 at 5:43 am
yep i still fight for freedom..at least my own freedom. apa artinya idup kalo tanpa kebebasan? ato emang gak ada kebebasan dlm idup? maybe there is real freedom after we’re in six feet underground…
2 July, 2008 at 11:05 pm
saya tidak suka buku ini. terlalu sinetron.
Boleh kok, dan sah-sah saja
4 July, 2008 at 2:28 pm
One of my favorites too. Lintang Sugianto memang cerdas memilih kata-kata indah.
25 June, 2009 at 9:40 am
manteb, kirim ke yyg ahhhh, thank yo mas ^^