Liga Indonesia super identik dengan kekerasan, tawuran, atau anarkis? Identik dengan rusuh? Mungkin iya untuk banyak orang, karena sudah banyak kejadian yang mengatas namakan olahraga, terutama sepak bola yang bisa menjadi bukti. Kediri yang menjadi korban ketika Arema melawan persiwa. Lalu korban jatuh saat persija melawan persipura. Rusuh ketika persib melawan persija. Dan sederet lagi potret kelam wajah sepakbola kita. Keep reading →
12 August, 2008
harajuku
Saya sedang bersama Roy malam tadi. Kami memisahkan diri agak jauh dari kerumunan, membiarkan asap tembakau kami terbang tinggi, berharap tidak melukai siapapun. Setidaknya ada sekitar empat atau lima kelompok yang terlihat. Riuh sekali, dan entah apa yang mereka bicarakan. Kelompok-kelompok itu sama seperti saya, sama juga seperti Roy. Menunggu dosen pengajar. Ibu dosen. Rasanya semester pendek ini adalah dua bulan yang benar-benar pendek. Hanya kurang Keep reading →
8 August, 2008
lupa
Saya mudah sekali terbius. Terbius oleh apa saja. Terbius oleh keadaan, terbius oleh pemandangan, situasi, emosi, kesenangan, waktu, terbius oleh apa saja.
Saya mudah sekali terpesona. Terpesona oleh kebersamaan, terpesona oleh keindahan, keberagaman, atau sesuatu yang yang baru. Sesuatu yang menantang otak saya untuk lebih sedikit mengerti, untuk lebih sedikit mengetahui. Keep reading →
31 July, 2008
okonkwo
Okonkwo, lelaki yang membawa saya menjelajahi Afrika bunuh diri. Sejujurnya, saya tidak begitu mengenal laki-laki ini. Yang saya tahu, ia tinggal di Umofia, sebuah daerah di pedalaman Nigeria. Okonkwo, lelaki beristri tiga -Nwoye, Ojiugo, Ekwefi- dengan sebelas anak, mengenalkan saya pada harmattan, angin dingin dan kering serta berdebu dari Sahara yang berembus menuju pantai utara Afrika, mengenalkan saya pada ekwe, udu maupun ogene, alat-alat musik yang biasa dimainkan orang-orang di Umofia, mengenalkan saya pada obi maupun ilo, rumah tinggal ataupun padang yang luas sebagai tempat diadakan pertemuan-pertemuan mereka, mengenalkan Keep reading →
28 July, 2008
keberuntungan
Bergerak-gerak kapal kami di tengah lautan. Jangkar sudah dilempar, penyeimbang sudah diturunkan, namun kapal masih saja tak bisa diam. Bergerak naik turun, bergoyang ke kiri dan kanan, terombang-ambing mengikuti irama ombak. Satu per satu teman-teman mulai mengambil posisi, empat di depan, dan empat di belakang, dengan berbagi berat di kedua sisi, kiri dan kanan. Dan ritual pun dimulai. Menancapkan ikan tembang pada mata kail, Keep reading →

